Sabtu, 08 April 2017

PERTUMBUHAN EKONOMI I

PERTUMBUHAN EKONOMI I
AKUMULASI MODAL DAN PERTUMBUHAN PENDUDUK

A. Akumulasi Modala

a. Fungsi Produksi dan Persediaan Barang
Fungsi produksi merepresentasikan transformasi dari input (angkatan kerja (L),modal (), teknologi produksi) ke dalam output (barang jadi dan jasa pada waktutertentu). Hal ini bisa ditulis dalam persamaan :
Y = F (K, L)

Dengan asumsi fungsi produksi memiliki skala tingkat pengembalian yang konstan ,maka persamaan dapat ditulis menjadi :
zY = F (zK ,zL )

Asumsi ini memungkinkan kita menganalisis semua kuantitas relatif terhadapukuran angkatan kerja. Set z = 1/L
Y/ L = F ( K / L , 1 )

Skala hasil konstan mengimplikasikan bahwa ukuran perekonomian sebagaimanadiukur oleh jumlah pekerja tak mempengaruhi hubungan antara output tiap pekerjadan modal tiap pekerja. Jadi, dari sekarang, kita notasikan semua kuantitas dalamistilah tiap pekerja dalam huruf kecil. Di sini fungsi produksi kita : y= f (K), di mana f ()= F (k,1).
MPK = f(k  + 1) – f()

Fungsi produksi menunjukkan bagaimana jumlah modal tiap pekerja k menentukanjumlah output tiap pekerja y = f ().

Kelandaian fungsi produksi adalah produk marjinal modal : jikakmeningkat sebesar 1 unit, y  meningkat sebesar MPK  unit.

b. Fungsi Konsumsi dan Permintaan Barang
Fungsi konsumsi per tenaga kerja ditulis :
 y = c + i

Solo mengasumsikan selain mengonsumsi sebesar c, pekerja juga memiliki simpanansebesar s, dimana jika jumlah yang bisa dikonsumsi adalah 1,maka jumlah aktualyang dikonsumsi adalah 1 dikurangi s, sehingga didapatkan persamaan :
c = (1-s) y
c disubstitusikan menjadi :
 y = (1-s) y + ii = s y

Pertumbuhan Persediaan Modal dan Kondisi Mapan (Steady State)
Berikut adalah dua kekuatan yang mempengaruhi persediaan modal :
• Investasi: pengeluaran tempat usaha dan peralatan.
• Depresiasi : menuanya modal lama; menyebabkan persediaan modal menurun.Investasi tiap pekerja i = s y 

Mari kita substitusi fungsi produksi untuk y, kita dapat mengungkapkan investasi tiap pekerja sebagai fungsi dari persediaan modal tiap pekerja
i = sf(k)

Persamaan ini menghubungkan persediaan modal yang ada k dengan akumulasi modal baru i. Tingkat tabungan s menentukan alokasi output antara konsumsi dan investasi. Untuk setiap tingkat k, output adalah f( k), investasi adalahs f (k ), dan konsumsi adalah f (k) –sf (k)

Dampak investasi dan depresiasi pada persediaan modal :
∆k = i – k

Dimana :
∆k: perubahan persediaan modal
i : investasi
k : depresiasi
Ingat investasi sama dengan tabungan jadi, bisa ditulis :
∆k =s f(k) –k
Depresiasi oleh karenanya proporsional terhadap persediaan modal.

Bagaimana Simpanan Memengaruhi Pertumbuhan
Model Solow menunjukkan bahwa jika tingkat tabungan tinggi, perekonomian akan memiliki persediaan modal besar dan tingkat output tinggi. Jika tingkat tabungan rendah, perekonomian akan memiliki persediaan modal kecil dan tingkat output rendah
Kenaikan tingkat tabungan menyebabkan persediaan modal tumbuh ke kondisi mapan baru.

Dalam Model Solow tingkat simpanan yang tinggi menyebabkan pertumbuhan ekonomi lebih cepat, namun hanya bersifat sementara sampai perekonomian mencapai kondisi mapan yang baru. Jadi, jika perekonomian bisa menjaga tingkat tabungan yang tinggi, maka akan menjaga persediaan modal dan output tetap tinggi, tapi tidak bisa menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi selamanya.

B. Kaidah Emas (Golden Rule) Tingkat Modal

Membandingkan Steady State
Nilai kondisi-mapan k yang memaksimalkan konsumsi disebut Tingkat Modal Kaidah Emas (Golden Rule Level of Capital )
Untuk menemukan konsumsi tiap pekerja pada kondisi-mapan, kita mulai dengan identitas pos pendapatan nasional :
 y = c + i
dan disusun ulang : c = y - i

Persamaan ini menyatakan konsumsi adalah output dikurangi investasi. Karena kita ingin menemukan konsumsi kondisi-mapan, kita substitusi nilai kondisi-mapan untuk output dan investasi. Output tiap pekerja pada kondisi-mapan adalah f (k*) di mana k* adalah persediaan modal tiap pekerja pada kondisi-mapan. Lalu, karena persediaan modal tidak berubah pada kondisi-mapan, investasi sama dengan depresiasi k*. Mensubstitusi f (k*) untuk  y dan dk* untuk i, konsumsi tiap pekerja pada kondisi mapan
c* = f (k*) - k*

Menurut persamaan ini, konsumsi pada kondisi-mapan adalah sisa dari output kondisi-mapan dikurangi depresiasi kondisi-mapan. Ini lebih jauh menunjukkan bahwa kenaikan modal kondisi-mapan memiliki dua efek berlawanan pada konsumsi kondisi-mapan. Di satu sisi, lebih banyak modal berarti lebih banyak output. Di sisi lain, lebih banyak modal juga berarti lebih banyak output yang harus digunakan untuk mengganti modal yang habis dipakai.

Output perekonomian digunakan untuk konsumsi atau investasi. Di kondisi-mapan, investasi sama dengan depresiasi. Jadi, kon- sumsi adalah selisih antara output f (k*) dan depresiasi dk*. Konsumsi kondisi-mapan di- maksimalkan pada kondisi mapan Kaidah Emas. Persediaan modal Kaidah Emas dino- tasikan k* emas , dan konsumsi Kaidah Emas adalahc* emas

Kita buat kondisi sederhana yang mencirikan tingkat modal Kaidah Emas Ingat kemiringan fungsi produksi adalah produk marjinal modal MPK. Kemiringan garisk* adalah. Karena dua kemiringan ini sama pada k*emas, Kaidah Emas dapat dijelaskan dengan persamaan MPK

Pada tingkat modal Kaidah Emas, produk marjinal modal sama dengan tingkat depresiasi. Ingat perekonomian tidak otomatis bergravitasi menuju kondisi mapan Kaidah Emas. Jika kita ingin persediaan modal kondisi mapan tertentu, seperti Kaidah Emas, kita butuh tingkat tabungan tertentu untuk mendukungnya.

Transisi Golden Rule Steady State a.

a.     Jika modal awal terlalu besar
Jika persediaan modal terlalu besar, maka pemerintah akan mengeluarkan kebijakan yang membuat tingkat tabungan menurun (misalnya menurunkan tingkat bunga deposito). Penurunan tingkat simpanan membuat konsumsi meningkat, investasi menurun, dan secara bertahap persediaan modal menurun. Investasi menurun membuat jumlahnya kurang dari depresiasi, akibatnya ekonomi tidak lagi dalam kondisi mapan.
Persediaan modal yang secara bertahap menurun membuat output, konsumsi dan investasi juga menurun. Tiga variabel akan terus menurun sampai ekonomi mencapai kondisi mapan baru.

b.    Jika modal awal terlalu kecil
Jika persediaan modal terlalu kecil, maka pemerintah akan mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan simpanan. Peningkatan simpanan membuat konsumsi turun dan investasi naik. Investasi naik menyebabkan persediaan modal naik secara bertahap yang menyebabkan output, konsumsi dan investasi naik juga secara bertahap, sampai mencapai kondisi mapan.

c.      Pertumbuhan Penduduk
Model Solow dasar menunjukkan bahwa akumulasi modal, sendiri, tak bisa menjelaskan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan : tingkat tabungan tinggi menyebabkan pertumbuhan tinggi sementara, tapi perekonomian akhirnya mendekati kondisi mapan di mana modal dan output konstan. Untuk menjelaskan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, kita harus memperluas model Solow untuk mencakup dua sumber lain dari pertumbuhan ekonomi.Jadi, kita tambahkan pertumbuhan populasi pada model. Kita akan mengasumsikan bahwa populasi dan angkatan kerja tumbuh dengan tingkat konstan n.

Steady State dengan Pertumbuhan Penduduk
Seperti depresiasi, pertumbuhan populasi adalah salah satu alasan mengapa persediaan modal per pekerja menurun. Jika n adalah tingkat pertumbuhan populasi dan d adalah tingkat depresiasi, maka (d +n)k adalah investasi impas (break-even investment ) - jumlah yang diperlukan untuk mempertahankan persediaan modal per pekerja k konstan.

Agar perekonomian ada di kondisi mapan, investasi s f(k) harus mengatasi dampak depresiasi dan pertumbuhan populasi (d +n)k. Ini ditunjukkan oleh perpotongan dua kurva. Kenaikan tingkat tabungan menyebabkan persediaan modal tumbuh ke kondisi mapan.

Efek Pertumbuhan Penduduk
Kenaikan tingkat pertumbuhan populasi menggeser garis yang mewakili pertumbuhan populasi dan depresiasi ke atas. Kondisi mapan baru memiliki tingkat modal per pekerja lebih rendah daripada kondisi awal. Jadi, model Solow memprediksi perekonomian dengan tingkat pertumbuhan populasi lebih tinggi akan memiliki tingkat modal per pekerja lebih rendah dan karenanya pendapatan lebih rendah.

Kenaikan tingkat pertumbuhan populasi dari n1 ke n2mengurangi persediaan modal kondisi-mapan dari k*1 ke k*2.
Perubahan persediaan modal per pekerja
∆k =i  – (+n)k
Sekarang, kita substitusi sf(k) untuk i
∆k = (s f k) – (+n)k

Persamaan ini menunjukkan bagaimana investasi, depresiasi dan pertumbuhan populasi baru mempengaruhi persediaan modal per-pekerja. Investasi baru meningkatkan k, sementara depresiasi dan pertumbuhan populasi menurunkan k.

Ketika kita tidak memasukkan variabel “ndalam versi sederhana kita—kita sedang mengasumsikan kasus khusus di mana pertumbuhan populasi adalah 0. Di kondisi mapan, dampak positif investasi pada modal per pekerja hanya menyeimbangkan dampak negatif depresiasi dan pertumbuhan populasi. Begitu perekonomian ada pada kondisi mapan, investasi memiliki dua maksud :
Beberapa di antaranya, (k*), mengganti modal yang terdepresiasi
Sisanya, (nk*), menyediakan pekerja baru dengan jumlah modal kondisi mapan. Kenaikan tingkat pertumbuhan populasi akan menurunkan tingkat output per pekerja.
Point-poin akhir tentang Tabungan
Dalam jangka panjang, tabungan perekonomian menentukan ukuran dari k dan kemudian y
 Semakin tinggi tingkat tabungan, semakin tinggi persediaan modal dan semakin tinggi tingkat y
Kenaikan tingkat tabungan menyebabkan periode pertumbuhan cepat tapi akhirnya pertumbuhan itu melambat seiring kondisi mapan baru tercapai.
Kesimpulannya meskipun tingkat tabungan tinggi menghasilkan tingkat output kondisi-mapan yang tinggi, tabungan sendiri saja tidak bisa membangkitkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Perspektif Alternatif terhadap Pertumbuhan Penduduk

Model Malthusian
 Thomas Robert Malthus dalam bukunya An Essay on the Principle of Population as It Affects the Future Improvement of Society, menyatakan bahwa kenaikan populasi penduduk adalah hambatan dalam usaha meningkatkan standar hidup.

Model Kremerian

 Sementara itu Kremerian menyatakan bahwa kenaikan populasi adalah kunci dari kenaikan kesejahteraan ekonomi. Jika terdapat lebih banyak orang, maka akan terdapat lebih banyak ilmuwan, penemu dan teknisi untuk berkontribusi dalam penemuan dan kemajuan teknologi

PENGANGGURAN

PENGANGGURAN
Pada chapter sebelumnya semua pembahasan menggunakan asumsi bahwa tidak ada pengangguran. Tingkat pengangguran alamiah adalah tingkat pengangguran rata-rata dalam perekonomian yang berfluktuasi

A.Pemutusan Kerja, Perolehan Pekerjaan, dan Tingkat Pengangguran Alamiah
Persamaan tentang angkatan kerja adalah sebagai berikut :
L = E + U
L : Jumlah angkatan kerja
E : Jumlah orang yang bekerja
U : Jumlah pengangguran
f U = s E
f : Tingkat perolehan pekerjaan (job finding)
s : Tingkat pemutusan kerja (job separation)
dari dua persamaan diatas diperoleh : U/L = s/(s+f)
Kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi tingkat pengangguran ilmiah, harus juga mengurangi tingkat pemutusan kerja atau menambah tingkat perolehan pekerjaan. Sebaliknya kebijakan yang bertujuan untuk menmpengaruhi tingkat pemutusan kerja atau tingkat perolehan pekerjaan akan mempengaruhi tingkat pengangguran ilmiah.

B.Pencarian Kerja Dan Pengangguran Friksional
Pengangguran friksional adalah pengangguran yang disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan pekerja untuk mencari pekerjaan. Pergeseran sektoral adalah perubahan komposisi permintaan di antara industri atau daerah. Pergeseran sektoral inilah yang mengakibatkan selalu adanya pengangguran friksional, karena dibutuhkan waktu bagi pekerja untuk mengubah pekerjaan.
Asuransi pengangguran adalah program asuransi dimana pekerja dapat mengambil sebagian upah mereka untuk periode tertentu setelah kehilangan pekerjaan. Kebijakan asuransi pengangguran ini juga secara tidak sengaja meningkatkan jumlah pengangguran friksional.

Penyebab Pengangguran Friksional
Pengangguran friksional dan tingkat pemutusan kerja bisa terjadi karena :
·         Perubahan sektoral (sectoral shift) dalam perekonomian. Kemajuan industri di suatu bidang akan mengakibatkan peningkatan permintaan pekerja di bidang tersebut namun mengakibatkan penurunan permintaan pekerja di bidang yang lain. Contohnya penemuan komputer, mengakibatkan peningkatan permintaan pekerja IT, namun menurunkan permintaan pekerja tukang ketik manual.
·         PHK yang tak terduga karena perusahaan bangkrut.
·         Kinerja pegawai sangat kurang
·         Keahlian pekerja tidak lagi dibutuhkan
·         Pergantian karir di bidang yang lain atau pindah ke negara lain. Sebagai akibat dari adanya PHK, maka pekerja membutuhkan waktu untuk mencari pekerjaan yang baru. Oleh karena itu pengangguran friksional tidak dapat dihindari.

Kebijakan Publik dan Pengangguran Friksional
Kebijakan pemerintah untuk mengurangi pengangguran friksional antara lain:
·         Menyelenggarakan training pekerja dari bidang yang mengalami penurunan ke bidang pekerjaan yang sedang berkembang pesat.
·         Mengadakan asuransi pengangguran yang memberikan manfaat berupa sebagian dari gaji yang biasa mereka terima ketika masih bekerja.
Namun, asuransi pengangguran memiliki kelemahan :
·         Pekerja menjadi lebih malas untuk mencari pekerjaan baru
·         Pekerja menolak tawaran pekerjaan yang tidak menarik
      Untuk mengurangi kelemahan tersebut, pemerintah hendaknya mengurangi besar manfaat yang diterima pekerja yang di PHK, sehingga pekerja akan lebih rajin untuk mencari pekerjaan baru, dan akhirnya dapat mengurangi tingkat pengangguran

C. Kekakuan Upah Riil Dan Pengangguran Struktural
Kekakuan upah (Wage rigidity ) adalah kegagalan dalam melakukan penyesuaian upah karena penawaran tenaga kerja sama dengan permintaannya. Pengangguran struktural adalah pengangguran yang disebabkan kekakuan upah dan penjatahan pekerjaan. Disini pengangguran terjadi bukan karena tidak adanya pekerjaan, tetapi karena pada upah yang berlaku, penawaran tenaga kerja melebihi permintaannya.

Undang-undang Upah Minimum
Penyebab kekakuan upah salah satunya adalah undang-undang upah minimum, dimana pemerintah mencegah upah turun ke tingkat ekuilibrium yang menyeimbangkan antara permintaan dan penawaran pasar tenaga kerja. Undang-undang yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan pekerja miskin, malah membuat tingkat pengangguran struktural semakin meningkat. Untuk mengatasi hal ini, banyak ekonom dan pembuat kebijakan percaya bahwa keringanan pajak lebih baik daripada meningkatkan upah minimum. Tapi di lain pihak, ternyata penelitian menunjukkan bahwa kenaikan 10-persen pada upah minimum mengurangi pengangguran pemuda sebesar 1 sampai 3 persen.

Serikat Pekerja dan Tawar-Menawar Kolektif
Sebab lain kekakuan upah yaitu kekuatan monopoli serikat pekerja. Di AS, hanya 18 persen pekerja ikut serikat pekerja. Kekuatan serikat pekerja mempunyai daya tawar yang tinggi sehingga dapat mengatur upah di atas tingkat ekuilibrium dan meng-izinkan perusahaan memutuskan berapa banyak pekerja yang diterima. Akibatnya terjadi penurunan jumlah pekerja dipekerjakan, tingkat perolehan kerja yang lebih rendah, dan peningkatan pengangguran struktural. Pengangguran yang disebabkan serikat kerja adalah contoh konflik antara berbagai kelompok serikat pekerja dari orang dalam maupun orang luar. Untuk mengatasi hal ini diselesaikan pada tingkat perusahaan.

Upah Efisiensi
Teori upah efisiensi (efficiency-wage) menyatakan upah tinggi membuat pekerja lebih produktif. Jadi, bila perusahaan mengurangi upah pegawai yang bertujuan untuk menurunkan biaya pegawai justru akan menurunkan produktivitas.
Teori upah-efisiensi memiliki empat pernyataan :
1.Upah mempengaruhi kesehatan
2.Upah tinggi mengurangi perputaran tenaga kerja
3.Kualitas rata-rata tenaga kerja perusahaan bergantung pada upah yang dibayar ke karyawannya.
4.Upah tinggi memperbaiki upaya pekerja.

D.Pengalaman Pasar Pekerja di Amerika Serikat Durasi Pengangguran
Pemerintah perlu mengetahui berapa rata-rata durasi menganggur para pekerja, agar kebijakan yang akan diambil menjadi tepat. Jika tujuan pemerintah adalah mengurangi tingkat pengangguran alami, maka kebijakan yang diambil harus disasar kepada penganggur jangka panjang. Namun, di sisi lain target kebijakan harus tepat, karena penganggur jangka panjang memiliki jumlah yang sangat kecil. Kebanyakan penganggur memperole pekerjaan baru dalam waktu yang singkat.

Variasi Tingkat Pengangguran Dengan Kelompok Demografi
Pengangguran usia muda (16-19 tahun) di USA lebih banyak sampai empat kali lipat dibanding pengangguran pada usia lebih dari 20 tahun. Hal ini terjadi karena pengangguran usia muda belum yakin dengan pilihan karir mereka, dan mereka cenderung untuk berganti-ganti pekerjaan sampai menemukan pekerjaan yang cocok dengan mereka. Sementara itu, pengangguran berkulit hitam lebih banyak dibanding pengangguran berkulit putih. Hal ini adalah bukti bahwa USA masih menjadi negara yang rasis, meskipun mereka katanya adalah negara demokrasi.

Tren Pengangguran
Tren atas tingkat pengangguran di USA bisa terjadi karena beberapa hal, dan berikut beberapa hipotesis atas hal itu :
·         Demografi penduduk : Tren pengangguran disebabkan adanya baby boom pada masa setelah Perang Dunia II.
·         Perubahan sektoral (sectoral shift) : Antara tahun 1970 dan 1980 terjadi pergolakan harga minyak disebabkan oleh OPEC, mengakibatkan tren pengangguran pada industri yang membutuhkan minyak lebih banyak dan industri yang hanya membutuhkan minyak sedikit.
·         Produktivitas : Pengangguran mengalami tren naik ketika tahun 1970-an produktivitas pekerja menurun, dan mengalami tren turun ketika tahun 1990-an produktivitas pekerja naik.

Perpindahan Masuk dan Keluar Angkatan Kerja
Selama ini diasumsikan bahwa alasan adanya pengangguran adalah tingkat pemutusan kerja, dan alasan berkurangnya pengangguran adalah tingkat perolehan pekerjaan. Padahal ada aspek penting yang selama ini dilupakan, yaitu perpindahan masuk dan keluarnya angkatan kerja.
Sekitar sepertiga pengangguran adalah mereka yang baru saja masuk ke angkatan kerja dan mereka yang sebelumya telah memiliki pekerjaan tapi meninggalkan pekerjaan mereka sementara waktu. Sementara itu, tidak semua pengangguran memeperoleh pekerjaan. Hampir setengah pengangguran adalah pengangguran yang telah keluar dari angkatan kerja.

E.Pengalaman Pasar Pekerja di Eropa

Peningkatan Pengangguran di Eropa
Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris mengalami tingkat pengangguran tinggi pada tahun-tahun terakhir, sebabnya ada dua teori :
1.Interaksi antara kebijakan berdurasi-panjang, yaitu kebijakan pemberian keuntungan royal untuk penganggur (pengganti upah karena mereka belum mendapat pekerjaan).
2.Kejutan baru, yaitu turunnya permintaan pekerja tidak terampil karena kemajuan teknologi.

Variasi Pengangguran di Eropa
Tingkat pengangguran di Eropa sangat beragam. Ketika tingkat pengangguran di USA adalah 6,1% ternyata tingkat pengangguran di Swiss adalah 2,1 %, sementara pengangguran di Spanyol adalah 11,3%. Fakta kedua adalah tingkat pengangguran tersebut di atas adalah pengangguran jangka panjang.

Peningkatan Waktu Luang di Eropa
Satu hal yang menjadi anomali di Eropa adalah tingginya tingkat pengangguran di Eropa dibanding di USA, tapi waktu luang pekerja di Eropa lebih tinggi. Pekerja di USA memiliki jam kerja per tahun relatif lebih tinggi dari pada pekerja di Eropa. Sementara itu, pekerja di Eropa lebih menikmati hari kerja yang pendek dan liburan yang lebih panjang. Dan, pekerja potensial lebih banyak bekerja di USA dari pada di Eropa

Edward Prescott memperoleh dua fakta bahwa tingkat pajak di Eropa lebih tinggi dibanding di USA dan tingkat pajak di Eropa mengalami peningkatan yang signifikan satu dekade terakhir. Dari fakta itu para ekonom menyimpulkan hipotesis antara lain :
·         tingkat pajak dapat mempengaruhi usaha pekerja dalam bekerja
·         tingkat pajak yang tinggi, membuat pekerja di Eropa melakukan pekerjaan lain pada ekonomi bawah tanah yang “off the books” untuk menghindari pajak  daya tawar keseluruhan pada pasar tenaga kerja lebih penting di Eropa dari pada di USA adanya kemungkinan perbedaan preferensi dalam bekerja. Pekerja di Eropa lebih memilih memiliki waktu luang yang banyak dibanding memiliki kesejahteraan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa

PEREKONOMIAN TERBUKA


PEREKONOMIAN TERBUKA

Pada chapter sebelumnya telah dibahas makroekonomidengan asumsi bahwa negaramenganut sistem perekonomian tertutup. Namun sejatinya banyak negara tidakdapat hidup tanpa adanya negara lain. Contohnya, saat kita ke pasar, maka akandijumpai apel malang atau apel washington. Ketika kita menabung di bank, makabank dapat meminjamkannya kepada pedagang bakso tetangga kita ataupun kepadapengusaha dari Singapura.

A. Arus Modal Dan Barang Internasional
Peran dari Net Ekspor
Pada perekonomian terbuka, pengeluaran negara tiap tahun belum tentu samadengan output barang dan jasanya. Suatu negara bisa melakukan pengeluaran lebihbanyak ketimbang produksinya dengan meminjam dari luar negeri, atau bisamelakukan pengeluaran lebih kecil dari produksinya dan memberi pinjaman padanegara lain.
Y = C + I + G + NX

Y: Jumlah permintaan untuk output domestik
C: Konsumsi rumah tangga
I: Investasi oleh sektor usaha & rumah tangga
G: Pembelian pemerintah
NX: Ekspor netto atau permintaan luar negeri netto = Ekspor - ImporPengeluaran domestik atas seluruh barang dan jasa adalah jumlah pengeluaranuntuk barang dan jasa domestik serta barang dan jasa mancanegara

Arus Modal Internasional dan Neraca Perdagangan

Y - C – G = I + NX
Y - C – G sering disebut tabungan nasional atau S. Jadi :
S = I + NX atau S – I = NX.

Bentuk identitas pos pendapatan nasional ini menunjukkan bahwa ekspor neto suatuperekonomian harus selalu sama dengan selisih antara tabungan dan investasinya.Dimana S adalah investasi asing netto dan NX adalah neraca perdagangan.

·         Jika S – I dan NX positif, kita punya surplus perdagangan (trade surplus). Kita jadinegara donor di pasar uang dunia, dan kita mengekspor lebih banyak barang daripada mengimpornya.
·         Jika S – I dan NX negatif, kita punya defisit perdagangan (trade deficit). Kita jadinegara pengutang di pasar uang dunia, dan kita mengimpor lebih banyak barangdaripada mengekspornya.
·         Jika S - I dan NX nol, kita punya perdagangan berimbang (balanced trade) karenanilai impor sama dengan nilai ekspor.

Dari Y = C + I + G + NX, juga bisa didapat NX = Y - (C + I + G), yang menunjukkan bahwa dalam perekonomian terbuka, pengeluaran domestik tidak perlu samadengan output barang dan jasa. Jika output melebihi pengeluaran domestik, kitamengekspor selisihnya dan ekspor neto adalah positif. Jika output kurang daripengeluaran domestik, kita mengimpor selisihnya dan ekspor neto adalah negatif.

Contoh Arus Modal dan Barang Internasional

Neraca perdagangan bilateral antara dua negara berarti bahwa nilai komoditasnegara jual ke negara lain sama dengan nilai komoditas yang dibeli dari negara itu.Contohnya, ada neraca perdagangan bilateral antara Amerika Serikat (AS) dan Cinajika AS membeli sepasang sepatu dari Cina seharga $300, tapi juga menjual jeans keCina seharga $300.

Suatu negara bisa punya defisit dan surplus perdagangan besar dengan berbagainegara tapi punya perdagangan berimbang keseluruhan. Contoh, ada perdaganganberimbang keseluruhan jika AS jual jeans $300 ke Jepang, Jepang jual jok mobil $300ke Cina, dan Cina jual sepatu $300 ke AS. Pada kasus ini, tiap negara yang membelisesuatu tanpa menjual sesuatu ke negara yang sama punya defisit perdaganganbilateral. Tapi, tiap negara punya perdagangan berimbang keseluruhan, mengekspordan mengimpor barang seharga $300.

B. Tabungan dan Investasi dalam Perekonomian Terbuka KecilMobilitas Modal Dan Tingkat Bunga Dunia

Telah diurai bahwa neraca perdagangan sama dengan arus modal ke luar neto, yanglalu sama dengan tabungan dikurangi investasi. Model kita berfokus pada tabungandan investasi. Kita biarkan perekonomian mengalami defisit perdagangan danmeminjam dari negara lain, atau mengalami surplus perdagangan dan memberipinjaman pada negara lain.

Misal perekonomian terbuka kecil dengan mobilitas modal sempurna di manatingkat bunga di dalamnya sama dengan tingkat bunga dunia r*,dinotasikan r = r*. Dalam perekonomian tertutup, yang menentukan tingkat bunga adalahkeseimbangan tabungan domestik dan investasi karenanya keseimbangan tabungandunia dan investasi dunia menentukan tingkat bunga dunia.

Asumsi Perekonomian Kecil Terbuka
Pembahasan pada chapter ini menggunakan asumsi perekonomian suatu negaraadalah perekonomian terbuka yang kecil dengan tujuan untuk lebihmenyederhanakan analisis yang dilakukan, sehingga dapat membantu pemikiran kita agar tidak terlalu rumit.

Model Perekonomian Kecil Terbuka
·         Output perekonomian ditentukan oleh faktor-faktor produksi dan fungsi produksi
·         Konsumsi berhubungan secara positif dengan pendapatan disposabel
·         Investasi berhubungan secara negatif dengan tingkat bunga riil
·         Identitas pos pendapatan nasional, diekspresikan dalam tabungan dan investasi.
·         Persamaan ini menunjukkan bahwa neraca perdagangan ditentukan oleh selisihantara tabungan dan investasi pada tingkat bunga dunia.

Bagaimana Kebijakan Mempengaruhi Neraca Perdagangan
Di perekonomian tertutup, r menyeimbangkan tabungan dan investasi. Di perekonomian terbuka kecil, tingkat bunga ditentukan pasar keuangan dunia. Selisih antara tabungan dan investasi menentukan neraca perdagangan. Di kasus ini, karena r* diatas r tertutup dan tabungan melebihi investasi, ada surplus perdagangan. Jadi, pada perdagangan berimbang, kenaikan tingkat bunga dunia karena ekspansi fiskal luar negeri menyebabkan surplus perdagangan. Jika tingkat bunga dunia berkurang ke r * ',I akan melebihi S dan akan ada defisit perdagangan.

Kenaikan permintaan investasi dari I(r)1 ke I(r)2 menyebabkan kenaikan jumlah investasi pada tingkat bunga dunia pada r*. Hasilnya, investasi sekarang melebihi tabungan, yang artinya perekonomian membutuhkan pinjaman dari luar negeri dan menyebabkan defisit perdagangan (NX < 0).

Mengevaluasi Kebijakan Ekonomi
Pada suatu negara, bila mereka mengalami defisit anggaran, maka dapat merefleksikan bahwa mereka memiliki tingkat saving yang rendah. Tapi defisit tidak selalu menjada malapetaka ekonomi. Terbukti Korea yang pada tahun 70-an mengalami defisit yang besar, saat ini telah tumbuh menjadi sangat pesat.

C. Nilai Tukar/ Kurs
Kurs Nominal Dan Kurs Riil

Kurs antara dua negara adalah harga yang penduduk negara-negara tersebut tukarkan satu sama lain. Kurs nominal adalah harga relatif mata uang dua Negara (e). Contohnya, jika kurs antara dolar AS dan yen Jepang adalah 120 yen per dolar, maka Anda dapat menukar satu dolar untuk 120 yen dalam pasar dunia untuk mata uang asing. Seorang Jepang yang ingin memperoleh dolar akan membayar 120 yen untuk tiap dolar yang ia beli. Seorang Amerika yang ingin memperoleh yen akan mendapat 120 yen untuk tiap dolar yang ia bayar. Jika orang merujuk pada “kurs” antara dua negara, biasanya berarti kurs nominal.

Kurs riil adalah harga barang relatif antara dua negara kadang disebut terms of trade. Untuk melihat perbedaan antara kurs riil dan nominal, misalkan barang yang diproduksi di banyak negara : mobil. Anggap harga mobil Amerika $10.000 dan harga mobil Jepang 2.400.000 yen.Untuk membandingkan harga kedua mobil tersebut, kita harus mengkonversinya ke mata uang umum. Jika satu dolar bernilai 120 yen, maka harga mobil Amerika 1.200.000 yen. Membandingkan harga mobil Amerika (1.200.000 yen) dan harga mobil Jepang (2.400.000 yen), kita simpulkan bahwa mobil Amerika berharga setengah mobil Jepang. Dengan kata lain, pada harga saat ini, kita dapat menukar dua mobil Amerika untuk satu mobil Jepang.

Tingkat harga di mana kita memperdagangkan barang dalam dan luar negeri bergantung pada harga barang dalam mata uang lokal dan pada tingkat kurs yang terjadi.

Di mana P adalah tingkat harga domestik (diukur dalam mata uang lokal) dan P* adalah tingkat harga luar negeri (diukur dalam mata uang asing).

Kurs Riil dan Neraca Perdagangan

Hubungan antara kurs riil dan ekspor neto adalah negatif : semakin rendah kurs riil, semakin mahal barang-barang domestik relatif terhadap barang-barang luar negeri, dan sehingga semakin besar ekspor neto kita. Kurs riil ditentukan oleh perpotongan dari garis vertikal mewakili tabungan dikurangi investasi dan kurva ekspor neto yang melandai ke bawah. Di sini jumlah dolar yang ditawarkan untuk investasi luar negeri neto sama dengan jumlah dolar yang diminta untuk ekspor neto barang dan jasa.

Faktor Yang Mempengaruhi Kurs Riil

Kursi riil berhubungan dengan net ekspor. Ketika kurs riil rendah, maka barang-barang domestik akan lebih murah dari pada barang luar negeri, dan net ekspor akan tinggi.
Net ekspor harus sebanding dengan arus keluar modal, yang mana akan sebanding dengan tabungan dikurangi investasi. Tabungan dipengaruhi langsung oleh konsumsi dan kebijakan fiskal, sementara investasi dipengaruhi langsung oleh investasi.

Bagaimana Kebijakan Mempengaruhi Kurs Riil

Kebijakan pemerintah yang mengurangi simpanan dengan menambah pengeluaran pemerintah atau mengurangi pajak dapat mengakibatkan defisit. Sementara bila pemerintah luar negeri menambah pengeluaran pemerintah atau mengurangi pajak, maka akan mengurangi tabungan dunia dan menaikkan tingkat bunga dunia dan akhirnya perdagangan akan surplus.
Bila permintaan investasi domestik meningkat, misalnya karena dispensasi pajak, maka akan memicu investasi yang lebih besar. Peningkatan permintaan investasi ini akan menyebabkan defisit perdagangan.

Dampak Kebijakan Perdagangan
Kebijakan perdagangan yang proteksionis tidak memberikan pengaruh kepada neraca perdagangan. Misalnya defisit yang terjadi karena kelebihan impor yang diatasi dengan melarang impor mobil, maka akan menambah nilai dari barang domestik terhadap barang luar negeri, yang kemudian akan mengurangi nilai ekspor.

Paritas Daya Beli
Paritas Daya Beli (Purchasing-Power Parity) menyatakan bahwa pergerakan kurs nominal terutama merefleksikan perbedaan tingkat harga negara-negara. Ini menyatakan bahwa jika arbitrase internasional dimungkinkan, maka satu dolar harus memiliki daya beli yang sama di setiap negara. Paritas daya beli tidak selalu berlaku karena beberapa barang tidak mudah diperdagangkan, dan kadang barang dagangan tidak selalu merupakan substitusi sempurna—tapi ini memberi alasan untuk berharap bahwa fluktuasi kurs riil akan kecil dan bersifat sementara.
Hukum satu harga yang diterapkan di pasar internasional menyatakan bahwa ekspor neto sangat sensitif terhadap perubahan kecil pada kurs riil. Sensisvitas tinggi ini dicerminkan dengan kurva ekspor-neto yang sangat datar